Dari Takut Menjadi Tertantang: Perjalanan Siswa SMP Mencintai Matematika

Oleh : Cindy Sri Rahayu, S.Pd., Gr

Sebagai guru matematika di tingkat SMP, saya sering menjumpai raut wajah tegang, kening yang mengerut setiap kali pelajaran matematika dimulai. Kalimat seperti “Bu, ana tidak bisa matematika” atau “Bu, ini benar tidak ya” “Bu ana takut salah” menjadi hal yang biasa terdengar di kelas. Ketakutan ini bukan muncul tanpa sebab, melainkan terbentuk dari pengalaman belajar sebelumnya yang kurang menyenangkan.

Pengalaman tersebut mendorong saya untuk merefleksikan kembali cara mengajar. Saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan mengubah cara pandang siswa terhadap matematika.

Pada awal semester, sebagian besar siswa menunjukkan sikap pasif. Mereka enggan bertanya, ragu menuliskan jawaban di papan tulis, dan cenderung menyerah sebelum mencoba. Setiap soal dianggap sebagai beban, bukan tantangan. Bahkan siswa yang sebenarnya mampu memilih diam karena takut salah. Sebagai guru, kondisi ini menjadi refleksi bahwa pembelajaran matematika belum sepenuhnya menyentuh sisi emosional dan psikologis siswa.

Saya mulai mengubah pendekatan pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi saya awali dengan rumus, melainkan dengan cerita, masalah sederhana, atau contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Saya juga membiasakan diri untuk memberikan apresiasi terhadap proses berpikir siswa, meskipun jawabannya belum tepat.

Di dalam kelas, saya sering menyampaikan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. Saya ingin siswa merasa aman untuk mencoba. Diskusi kelompok, menyelesaikan permainan sederhana, serta soal bertahap mulai saya terapkan agar siswa merasa tertantang tanpa merasa tertekan.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Siswa yang sebelumnya diam mulai berani mengangkat tangan. Mereka tidak lagi takut mencoba mengerjakan soal di papan tulis. Ketika menemukan kesulitan, mereka berdiskusi dengan teman, bukan langsung menyerah. Yang paling membahagiakan bagi saya adalah ketika siswa mengatakan, “Ternyata matematika tidak semenakutkan yang ana bayangkan.” Kalimat sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan yang tepat dapat mengubah sikap belajar siswa.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan pembelajaran matematika tidak hanya diukur dari nilai akhir, tetapi dari perubahan sikap dan kepercayaan diri siswa. Guru bukan hanya pengajar rumus, tetapi juga pembimbing yang menumbuhkan keberanian, ketekunan, dan rasa ingin tahu. Matematika menjadi sarana untuk melatih karakter siswa agar tidak mudah menyerah dan berani menghadapi tantangan. Bagi saya, melihat siswa berani mencoba dan percaya pada kemampuannya sendiri merupakan keberhasilan terbesar dalam mengajar.

9 komentar untuk “Dari Takut Menjadi Tertantang: Perjalanan Siswa SMP Mencintai Matematika”

  1. Mantap bu cindy, benar MTK bukan semata mata tentang angka, namun tentang perjuangan untuk menyelesaikan suatu masalah … memiliki daya juang yang besar menjadi kan anak anak siap utk menghadapi dunia nyata

  2. awal nya gk suka mtk krna susah bgt buat ngerjain rumus tpi klo kta perhatiin dgn teliti dan fokus jdi kyk mudah. ANA SUKA MTK KRN KLO BLJR NYA FOKUS JDI MUDAH.. !
    mantap buuu👍🏼💪🏼

  3. Mantap cikgu manis..teruslah berbuat untuk kemajuan pendidikan walaupun di mulai dari hal2 sederhana…untuk saat ini melihat siswa semangat belajar itu sudah luar biasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *