Oleh : Kesi Trisnawati, S.Pt.
Di era modern yang penuh persaingan, ukuran keberhasilan sering diukur dari prestasi akademik, jabatan, dan kemampuan teknis. Banyak sekolah berlomba-lomba mencetak siswa cerdas dan terampil agar mampu bersaing di masa depan. Namun, pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama adalah: apakah kecerdasan saja cukup untuk membangun pribadi dan bangsa yang bermartabat?
Pengabdian 20 tahun saya sebagai pendidik menunjukkan bahwa kemajuan tanpa karakter justru melahirkan banyak persoalan. Kita akan menyaksikan banyak orang-orang berpendidikan tinggi terjerat kasus ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang, dan pengkhianatan amanah. Hal ini menegaskan bahwa kuat mental dan pintar saja tidak cukup jika tidak ditopang oleh kekuatan mental dan kemuliaan akhlak.
Dalam pengalaman mengajar, saya juga merasakan langsung bahwa profesionalisme sejati tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar yang bagus, administrasi yang lengkap, tetapi juga harus diukur dari keteladanan sikap dan perilaku yang baik, karena akhlak merupakan pondasi utama dalam setiap peran kehidupan. Ia mengajarkan kejujuran saat tidak diawasi, tanggung jawab saat diberi amanah, serta keadilan dalam bersikap.
Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa: 58)
Sebagai seorang pendidik, saya berusaha menjalankan amanah dengan penuh cinta, propesional dan penuh tangung jawab. Saya juga berusaha hadir tepat waktu, mempersiapkan pembelajaran dengan maksimal, serta membimbing siswa bukan hanya dalam ilmu, tetapi juga menekakakan sikap dalam adab dan karakter.
Di sisi lain, saya juga menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak di rumah. Bagi saya, keluarga adalah madrasah pertama untuk anak-anak, tempat menanamkan nilai spiritual, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab setiap harinya.
Menjalani dua peran ini tidak selalu mudah. Namun akhlak mulia menjadi kunci keseimbangan. Dengan akhlak, saya belajar mengatur prioritas, menjaga amanah profesi tanpa mengabaikan keluarga, serta menunaikan setiap peran dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan karakter harus menjadi RUH dalam proses belajar mengajar. Dalam dunia pendidikan, karakter yang baik bukan hanya materi yang diajarkan, tetapi harus menjadi budaya yang dihidupkan, karena Sekolah tidak hanya mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang tangguh secara mental, cerdas dan mulia akhlaknya.
Semoga melalui pendidikan yang berorientasi pada akhlak, integritas, dan loyalitas, kita mampu menyiapkan generasi masa depan yang bukan hanya sukses secara duniawi, tetapi juga berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menjadi refleksi bahwa akhlak dan ketakwaan adalah standar kemuliaan sejati, karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi jauh lebih membutuhkan orang-orang yang jujur, amanah, dan berkarakter.

