Oleh : Junia Nabila, S.Pd
Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, aku selalu berdiri sejenak di depan kelas, memandang wajah-wajah remaja tanggung itu. Anak-anak remaja usia kira-kira 13-16 tahun itu ketika emosi sering lebih cepat daripada logika, dan keinginan kerap mendahului kesabaran. Aku menarik napas, lalu berdoa dalam hati, semoga hari ini angka-angka tak hanya dipahami oleh kepala mereka, tetapi juga mengendap di hati.
‘Bubil, matematika itu buat apa sih?’ tanya seorang siswaku pada suatu hari, polos, sambil menatap papan tulis penuh bilangan bulat.
Pertanyaan itu sangat sederhana, tapi selalu mengusik. Aku tersenyum. ‘Untuk belajar berpikir jujur,’ jawabku pelan.
Mereka tertawa kecil. Mungkin mengira aku bercanda. Tapi bagiku, matematika adalah pelajaran paling jujur yang pernah ada. Tiga ditambah tiga akan selalu enam. Tak peduli siapa yang menghitung, tak peduli seberapa keras kita ingin hasilnya berbeda. Angka mengajarkan ketegasan tentang benar dan salah yang tidak bisa ditawar.
Di kelas delapan itu tepatnya tahun lalu, aku mengajarkan persamaan linear. Banyak yang mengeluh. Alis berkerut, pensil berhenti bergerak. Aku tahu, mereka sedang belajar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mencari nilai
Kita cari satu-satu, kataku. ‘Sabar. Logika itu seperti iman tidak tumbuh dengan tergesa-gesa.’
Seorang siswa di bangku belakang, yang aku samarkan namanya Fulan, selalu tertinggal. Nilai matematikanya rendah, tapi akhlaknya baik. Setiap kali aku masuk kelas, dia berdiri paling cepat, menyapa dengan sopan. Namun saat ulangan, jawabannya sering kosong.
Suatu siang, aku memintanya tinggal sebentar.
Kenapa tidak mencoba? tanyaku lembut.
Fulan menunduk. Takut salah, Bu.
Kalimat itu menamparku pelan. Bukankah banyak orang dewasa juga hidup seperti itu? Takut salah hingga memilih tidak melangkah.
Aku mengambil spidol dan menulis sebuah soal sederhana. ‘Dalam matematika, salah itu bagian dari proses. Yang penting jujur dan mau memperbaiki.’
Ia mengangguk pelan.
Hari-hari berlalu. Aku mulai menyelipkan cerita di antara rumus. Tentang pembagian yang adil, tentang pecahan yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu utuh, tentang bilangan negatif yang mengingatkan bahwa masa sulit tetap memiliki nilai.
‘Kalau hidup kalian sedang minus, kataku hari itu, bukan berarti tidak berguna. Minus dikali minus bisa jadi positif, asal caranya benar dan yakin.’
Mereka terdiam tanpa sepatah katapun. Aku tahu, di balik seragam rapi itu, ada anak yang sedang menghadapi orang tua bertengkar, ada yang berjuang dengan rasa minder, penuh tuntutan, ada pula yang belajar menahan marah.
Setiap kali bel masuk berbunyi, aku selalu menutup pelajaran dengan kalimat yang sama, ‘Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah.’
Karena sekolah ini tentunya bukan hanya tempat mengejar nilai rapor. Di sini kami selalu berusaha menanamkan keyakinan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama akhlak, dan logika harus dituntun oleh iman. Pada akhir semester kemarin tahun lalu tepatnya, Fulan menghampiriku. Nilai matematikanya belum sempurna, tapi meningkat.
Bubil, katanya, sekarang saya berani mencoba. Kalau salah, saya perbaiki.
Aku menahan haru. Bagiku, itulah hasil belajar yang paling indah dan berkesan.
Sebagai guru, aku sangat sadar, tugasku bukan mencetak anak-anak yang hafal rumus, tetapi membimbing mereka agar kelak mampu menghitung langkah hidup dengan bijak menimbang benar dan salah, memilih jujur meski sulit, dan bersandar pada Allah ketika logika tak lagi cukup. Di papan tulis, angka-angka akan selalu terhapus. Tapi semoga nilai-nilai yang kami tanamkan hari ini, menetap lebih lama di hati mereka. Karena pada akhirnya, hidup adalah soal yang panjang jawabannya bukan hanya dicari dengan kecerdasan, tetapi juga dengan keimanan dan akhlak yang mulia.


Bubil terimakasih karna udah jadi guru matematika yang sudh merubah matematika yg dulu ana anggap susah menjadi pelajaran yg menyenangkan