Kesaktian Pancasila pada Jiwa Bangsa

​Mengapa kita perlu mengenang hari kesaktian Pancasila? Apa yang sebenarnya menjadi latarbelakang adanya hari kesaktian pancasila? Seberapa pentingkah hari kesaktian pancasila bagi jiwa bangsa? Lalu apa bedanya hari lahir pancasila dengan hari kesaktian pancasila? Selanjutnya, masih berpengaruhkah nilai pancasila pada Jiwa bangsa?

​Secara filosofis hari kesaktian Pancasila untuk mengenang perjuangan pahlawan dan pengorbanan pahlawan yang gugur dalam mempertahankan ideologi negara dari ancaman negara, yaitu pada peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Kemudian Pancasila juga sebagai bukti betapa kokohnya nilai pancasila pada saat ada ideologi yang mencoba masuk untuk menggantikannya. Pancasila tetap  menjadi pertahanan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ditengah kondisi bangsa yang majemuk. 

​Secara kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara, sesuai yang termaktub pada pasal 2 Undang-Undang No 12 Tahun 2011 tentang Peraturan Perundang-undangan. Nilai-nilai dasar pancasila menjadi acuan dari setiap peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia. Pancasila sebagai simbol kekuatan ideologi negara dari berbagai ancaman perpecahan dan menjadi landasan moral untuk bernegara. Jika kita membahas tentang “Kesaktian Pancasila” maka kita akan kembali mengingat sebuah pasal dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkaitan dengan jiwa bangsa:

Yaitu dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia telah dijelaskan bahwa Indonesia adalah Negara persatuan. Hal ini merupakan pilar utama untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Pasal ini merupakan impelementasi dari sila ke 3 untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Berdasarkan sejarah, pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945 sebagai falsafah dan menjadi sebuah pandangan yang kuat untuk mengikat keberagaman bangsa Indonesia setelah merdeka.Serta sebagai syarat mutlak  berdirinya sebuah negara. Hal ini tercetus dari Dr Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua BPUPKI dan Ir.Soekarno pada saat itu. Lalu, pertanyaan untuk kondisi hari ini, Apakah kaitannya Kesaktian Pancasila untuk Jiwa bangsa? Masih perlukah nilai-nilai Pancasila itu dipertahankan?

Nilai-nilai pancasila bukan sekedar nilai yang setiap upacara senin pagi kita dengarkan yang berlalu begitu saja. Tapi setiap jiwa perlu menanamkan dan menumbuhkan kembali nilai-nilai dasar pancasila itu dalam berkehidupan dan bernegara. Karena nilai pancasila bukan hanya untuk dipelajari di ruang-ruang kelas sekolah saja, tapi ia menjadi nilai yang wajib di integrasikan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara oleh seluruh warga Indonesia. Mulai dari para masyarakat, siswa-siswi, guru, dosen, pejabat daerah, pejabat negara sampai pada para Pemimpin di wilayah Indonesia.

Pancasila masih sangat perlu untuk terus dipertahankan sebagai jiwa bangsa. Karena mempengaruhi mentalitas bangsa untuk menjadi masyarakat yang berkarakter. Dan saat ini pendidikan di Indonesia telah mengintegrasikannya dalam 6 dimensi profil pelajar pancasila. Adapun point karakter yang ingin dibentuk oleh pancasila terhadap warganya yaitu: 

1. Menjadi manusia yang bermoral dan kuat spiritualnya serta tidak gegabah dalam bertindak. Karena seseorang harusmerasa segala perbuatannya diawasi oleh Allah sang pencipta alam semesta.

2. Cerdas dalam berpikir. Sesorang harus memiliki kecerdasan, kebijaksanaan, juga tetap beradab dan beretika.Mampu membedakan antara kebenaran dan keburukan dengan nilai-nilai moral tersebut.

3. Mempunyai kepedulian dalam lingkungan. Tidak menjadi manusia yang egois, tapi menjadikan masyarakat yang peka terhadap penderitaan, kesulitan dan apa yang orang lain butuhkan. 

Nilai ketuhanan dalam pancasila yang menjadi tonggak dari semua nilai yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya.Pancasila tetap berperan menjadi filter dari budaya yang masuk ke Indonesia. Wasternisasi adalah contoh ancaman yang nyata ketika kita tidak memiliki identitas moral dalam bangsa.Harusnya setiap dari kita ikut dalam kebiasaan gotong royong  bukan membiarkan orang lain yang “menggotong”. Karena “membiarkan” sama dengan bersifat individualis, tidak ada rasa saling membantu dan tenggang rasa. Ini salah satu bekal untuk bertahan hidup dalam bersosial. Karena manusia juga bagian dari makhluk sosial. Maka pancasila masih membawa pengaruh yang nyata untuk bangsa. (Fatimah, S.H, Gr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *