Oleh : Astuti Hidayati, S.Pd.I., M.Pd., Gr.
Suara bel pergantian jam pelajaran baru saja berbunyi di SDIT Nurul Ilmi Jambi . Di ruang kurikulum, saya sedang menatap tumpukan administrasi pembelajaran yang harus segera diselesaikan. Namun, saya tahu, tugas saya bukan hanya soal kertas dan angka, tugas utama saya adalah memastikan “mesin” sekolah ini yaitu para guru tetap tenang dan bahagia.
Pintu terbuka pelan. Muncul wajah lesu dari Ustazah Fulanah , salah satu guru kelas rendah. Ia duduk di kursi depan meja saya, menghela napas panjang.
“Ustazah Asty, boleh curhat sebentar? Saya rasanya mau menyerah menghadapi Hafizh. Hari ini dia tantrum lagi, dan saya merasa gagal mengelola kelas,” ucapnya lirih.
Belum sempat saya menjawab, Ustazah lain masuk dengan keluhan berbeda soal administasi kelas yang membuatnya pusing. Meja saya seketika berubah menjadi dermaga, tempat para guru menepikan kapal mereka yang sedang dihantam badai di dalam kelas.
Sebagai Waka Kurikulum, saya meletakkan pena dan menutup leptop . Saya tahu, jika suasana hati guru mendung, maka pembelajaran di kelas tidak akan pernah cerah.
“Ustazah Fulanah,” kata saya lembut, “Kita ini sedang menanam benih di tanah yang berbeda-beda. Ada yang cepat tumbuh, ada yang butuh siraman lebih banyak. Hafizh bukanlah sebauah kendala dan beban, dia adalah ladang pahala Ustazah hari ini.”
Saya mulai mendengarkan satu per satu. Ada yang butuh solusi teknis tentang administrasi kelas, ada yang hanya butuh didengar rasa lelahnya, ada yang konflik dengan teman sejawat. Saya tidak hanya memberikan instruksi, tapi mencoba mengayomi. Saya mengingatkan mereka kembali pada niat awal kita di SDIT Nurul Ilmi Adalah membentuk generasi rabbani.
“Ingat ya Ustdzah, tugas saya adalah memastikan kurikulum berjalan, tapi tugas utama kita bersama adalah memastikan anak-anak merasa disayangi. Jika Ustazah lelah, istirahatlah sejenak. Mari kita diskusikan strategi baru untuk kelas besok. Kita cari cara agar pembelajaran tidak hanya tuntas di atas kertas, tapi membekas di hati siswa.”
Senyum mulai terbit di wajah mereka. Kekakuan tentang target capaian pembelajaran sedikit mencair. Sebelum mereka kembali ke kelas, saya memberikan sebuah tips praktis untuk menangani siswa yang sulit fokus, sebuah strategi kecil yang saya ambil dari evaluasi kurikulum bulan lalu.
Ketika mereka keluar ruangan dengan langkah yang lebih ringan, saya tersenyum sendiri. Menjadi Waka Kurikulum bukan berarti saya paling pintar, tapi artinya saya harus menjadi orang yang paling sabar untuk merangkul rekan-rekan guru dan selalu siap mendengarkan kata hati mereka.
Karena saya percaya: Guru yang bahagia akan melahirkan siswa yang luar biasa.


Dear http://nurulilmijambi.sch.id/fekal0911 Administrator