Oleh : Luluk Lativa Sari, M.Pd.
Di sudut kelas, ada siswa yang selalu duduk paling belakang. Pandangannya sering kosong ke arah jendela, bukunya terbuka tapi jarang benar-benar dibaca. Ia hampir tak pernah mengangkat tangan saat pelajaran berlangsung. Banyak guru mengira ia malas, tidak fokus, atau tidak tertarik belajar. Nilainya biasa saja, kehadirannya lengkap, tapi hatinya seolah tidak pernah benar-benar ada di ruang kelas. Sebut saja namanya Lia.
Suatu hari, Bu Tia tidak langsung menegurnya saat melihat Lia melamun. Ia justru duduk di bangku sebelahnya saat jam istirahat.
“Lia, Ibu sering lihat kamu gambar-gambar kecil di buku. Itu gambar kamu sendiri?” tanyanya lembut.
Lia terkejut. Ia menutup bukunya cepat-cepat, mengira akan dimarahi karena tidak memperhatikan pelajaran. Tapi nada suara itu berbeda—bukan nada menyalahkan, melainkan ingin tahu. Pelan-pelan ia membuka kembali bukunya. Di sudut-sudut halaman, ada sketsa wajah, pemandangan, dan tokoh imajinasi yang ia buat diam-diam saat pelajaran terasa terlalu berat baginya.
Sejak hari itu, Bu Tia tidak lagi hanya melihat Lia sebagai “anak yang selalu melamun di kelas”. Ia melihatnya sebagai anak yang punya dunia, minat, dan cara sendiri untuk menenangkan pikirannya. Sesekali ia bertanya tentang gambar yang sedang Lia buat. Ia bahkan pernah meminta Lia membantu menggambar ilustrasi untuk mading kelas. Untuk pertama kalinya, Lia merasa apa yang ia sukai tidak dianggap gangguan, tetapi potensi.
Perlahan, Lia mulai berubah. Ia masih pendiam, tapi kini lebih sering memperhatikan pelajaran. Ia mulai berani bertanya jika tidak paham. Senyumnya pun lebih sering terlihat. Suatu sore setelah sekolah, ia menghampiri Bu Tia dan berkata pelan, “Bu… makasih ya. Baru kali ini ada yang bilang gambar saya bagus.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat hati Bu Tia hangat sekaligus terenyuh. Ia sadar, selama ini mungkin banyak anak seperti Lia—terlihat diam, kurang responsif, seolah tidak peduli—padahal sebenarnya hanya menunggu ada orang dewasa yang mau melihat lebih dalam, bukan hanya dari nilai dan sikap di kelas.
Generasi Z memang hidup di zaman yang berbeda. Mereka cepat bosan, pikirannya penuh, dan emosinya kadang sulit mereka jelaskan. Namun di balik itu semua, hati mereka tetaplah hati anak-anak yang ingin dipahami, dihargai, dan ditemani. Mereka tidak selalu butuh nasihat panjang, tapi butuh seseorang yang mau duduk di samping mereka dan bertanya dengan tulus, “Kamu sebenarnya suka apa?”
Menjadi teman bagi Generasi Z bukan berarti kehilangan wibawa, tetapi memilih untuk mendekat sebelum menasihati, mendengar sebelum menilai, dan merangkul sebelum menuntut. Karena sering kali, perubahan besar pada diri seorang anak dimulai dari satu hal kecil: ada orang dewasa yang benar-benar mau hadir di dunianya.


Masyallah..sangat menginspirasi sekali…terimakasih
Masyaalloh.. untuk teenagers, mmg pendekatan sbg temen terkadang lebih disukai drpd sebagai guru.. semangat selalu buk lulu dlm membersamai anak2 didiknya yaa