Oleh : Mainel Isra, M.Pd., Gr.
Sendiri….
Iya, ku masih sendiri berdiri di sini, di gerbang SIT Nurul ‘Ilmi Jambi ini, piket menyambut kedatangan siswa katanya, eh tepatnya kata guru pamongku beberapa hari yang lalu, saat hari pertama kali ku mengajar di sini. ini hari keempat ku berdiri di sini. satu orang anak lewat di depanku, memberi salam dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada, namun tanpa kata-kata. kuucap salam padanya, dijawab dengan senyuman..
hufff… salam kok di jawab senyum …
satu anak kembali lewat,
“Assalamualaikum ibu … “ . “ waalaikumussalam, jawabku sambil kuusap kepalanya, dia tersenyum, ku tatap wajah polos dan matanya yang berbinar bahagia. Ada yang berdesir halus dalam dadaku setiap menatap anak-anak tersebut dari beberapa hari yang lalu.
Satu persatu teman-temanku sesama guru mulai berdatangan, ada juga beberapa yang ikut berbaris di sampingku untuk ikut menyambut anak-anak.
Oh iya, sebenarnya piket ini tidak selalu setiap hari dilakukan oleh guru yang sama, tapi bergantian, eh .. namanya juga piket kan ya, jadi memang bergantian. Tapi dari hari pertama ku di sini, aku lebih memilih untuk berdiri di sini. Entahlah. Ada rasa yang sebenarnya tak juga kupahami. Disatu sisi ada rasa malas untuk berdiri di sini, namun di sisi lain ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan saat dapat ucapan salam dan senyuman tulus anak-anak tersebut.
Bahagia ? Apa iya ?
Iya. Sangat . Ucapku dalam hati tentu saja.
Bisa jadi, bahagia itu berasal dari doa tulus yang keluar dari mulut- mulut mereka tak berdosa itu. Bukan kah salam itu ucapan doa ? Doa yang begitu mulia, doa untuk keselamatan dan Rahmat. Dan kita didoakan dengan tulus sebelum kita sibuk dengan urusan dunia kita.
Sering kubaca dan ku dengar betapa dahsyatnya ucapan salam tersebut bagi seseorang. Namun dalam realitanya begitu sulit untuk dilaksanakan, kita sudah menganggap salam hanya ketika masuk rumah, saat pembukaan pidato, atau berbicara di depan umum lainnya.
Dan betapa ku merasa benar-benar beruntung karena Allah mempertemukan ku dengan mereka-mereka yang senantiasa mengucap doa tulus tersebut setiap pagi, dan ku sudah bertekad, jika ada anak yang mulutnya masih berat dan tertutup rapat, aku lah yang senantiasa membiasakannya untuk mengucap doa tersebut. akan selalu ku nanti doa-doa mereka di setiap pagi untuk mengawali hari. Dan ku menamainya… salam anak-anak syurga


Masya allah
Luar Biasa
Assalamualaikum wrwb Bu guru
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Bu guru
Masyallah…sangat memotivasi sekali
Masyallah…sangat memotivasi sekali