Ditulis oleh : Wasril Tanjung, S.Pd., Gr.
“Apa hal yang paling berkesan saat di sekolah?”
Setiap pertanyaan ini saya lontarkan kepada alumni SMAIT Nurul ‘Ilmi Jambi, mayoritas mereka menjawab bukan saat aktivitas pembelajaran di kelas. Justru, aktivitas yang non formal lah yang paling berkesan. Seperti, kesibukan mereka saat merealisasikan program-program organisasi siswa, berkunjung ke kampus favorit di program goes to campus, belajar bahasa inggris di kampung inggris, mengikuti arung jeram di Geopark Merangin, aktivitas majelis pagi bersama teman di kelas, makan-makan dan tidur bareng di kelas, dan lain-lain. Jarang diantara mereka menceritakan bahwa yang paling berkesan selama di sekolah adalah ketika belajar materi tertentu di kelas. Jikapun ada, hanya sepotong dua potong aktivitas pembelajaran yang mereka ingat. Apakah ini salah?
Bagi saya, ini adalah hal yang wajar. Karena sejatinya manusia cenderung suka dengan hal-hal yang non formal, seru, tidak kaku, dinamis, dan menyenangkan. Dan aktivitas ini paling banyak momentumnya saat aktivitas di luar kelas. Jika sekolah tidak mendukung anak untuk mengeksplore dirinya pada kegiatan non formal di sekolah, maka kenangan berkesan yang terekam di otak mereka akan sangat minim. Nurul ‘Ilmi Jambi menurut saya telah memberikan ruang ini kepada siswa dengan seluas-luasnya. Mungkin karena salah satu visi sekolahnya adalah mewujudkan “insan yang tangguh”.
Bagi saya, pematangan “mental siswa” justru akan lebih terbentuk ketika mereka bersosialisasi dan berdinamika di kegiatan non formal atau organisasi. Sebab, dengan mereka aktif di organisasi, mereka akan terpaksa memeras pikiran mereka dan menyusun strategi jitu agar program kerja mereka terlaksana dengan sangat memuaskan. Butuh pemikiran dan strategi yang kompleks untuk merealisasikan program kerja organisasi daripada hanya duduk diam mendengarkan pemaparan guru di kelas mengupas materi pelajaran tertentu.
Apalagi saat ini era sudah semakin canggih. Di ranah kognitif, Artificial Intellegence (AI) sudah sangat membantu manusia. Jika aktivitas pembelajaran sekedar membuat siswa menjadi tahu, maka ia akan dikalahkan oleh siswa lain yang pandai memanfaatkan AI. Apalagi kita paham bahwa pengetahuan tidak akan berguna kecuali jika ia BISA. Dan meskipun bisa, jika ia tidak mau, maka percumalah pengetahuan itu. TAU-BISA-MAU. Semuanya penting! Guru jangan hanya terfokus ke salah satu hal saja. Persentasenya harus disesuaikan.
Menumbuhkan motivasi siswa dengan metode yang bukan klasikal dan normatif harus sering dilakukan. Banyak caranya. Barangkali guru bisa menerapkan model pembelajaran yang tidak seperti biasanya, atau sekedar games, atau nonton film inspiratif bersama dengan siswa. Bagi sebagian guru ini hanyalah aktivitas buang-buang waktu. Tapi lihatlah dari kacamata siswa. Justru yang demikianlah yang mereka butuhkan. Sebab, informasi sudah banyak di Youtube & Chat GPT yang sangat mudah temukan melalui handphone mereka. Maka, sudah sewajarnya guru memberikan pengalaman kepada siswa, bukan sekedar menceramahi. Bisa jadi apa yang disampaikan oleh guru udah jauh ketinggalan dari apa yang dipaparkan di Youtube,
Saya pernah berkata kepada siswa, “antum jangan insecure dengan nilai fisika yang rendah, karena ilmu fisika hanya akan berguna bagi mereka yang akan melanjutkan studi ke jurusan yang berkaitan dengan fisika saja. Yang antum harus khawatirkan adalah antum tidak punya “nilai jual”. Jadi, tidak perlu ahli di semua bidang. Cukup satu atau dua saja, tapi orang lain akan sangat ketergantungan dengan antum karena bagi mereka keahlian tersebut hanya antum yang paling menguasainya.” Disini saya ingin menekankan kepada mereka bahwa menjadi hebat tidak perlu menguasai banyak hal. Jadilah dirimu sendiri. Jika tak pandai fisika bukan berarti dia bodoh. Karena bagi dia, Fisika tidak relevan untuk masa depannya. Maka, pelajarilah sebanyak-banyaknya hal yang relevan dengan kehidupanmu di masa depan. Dan sumber ilmunya tidak hanya di ruang kelas, tapi juga banyak di luar kelas.
Sebagai guru, mari kita memberikan pengalaman akademik kepada siswa. Jika rasa-rasanya pengalaman itu tidak bisa kita ciptakan sendiri, namun teknologi bisa membantu kita, maka lakukan itu. Jika dirasa kurang berkesan, maka dorong mereka untuk beraktivitas di luar kelas, seperti aktif di organisasi, mengikuti lomba, melakukan riset, dan lain-lain. Setelah itu, kita tanya apa yang mereka dapatkan lalu kita masukkan nilai-nilai yang kita pegang sebagai kompas bagi mereka. Intinya, jangan memaparkan ilmu terpaku pada apa yang ada di buku. Berikan pengalaman!! Give the best, get the best.


To the http://nurulilmijambi.sch.id/fekal0911 Owner