Oleh : Habibullah, S.Pd.
Dewasa ini kita disuguhkan fenomena menjamurnya sekolah dan pondok yang mulai fokus kepada program menghafalkan AlQuran. Sangat terasa semangat antusiasme dari siswa dan santri dalam menghafalkan setiap ayat dan huruf sehingga bisa tersimpan lama didalam diri dan fikiran, Dengan jumlah yang sangat beragam. Ada yang hanya mampu 1 juz namun juga tidak sedikit yang mampu khatam 30 juz Al-Qur’an.
Dibalik meriah dan gegap gempitanya progam dan semangat menghafalkan alquran, Ada hal yang paling fundamental yang banyak dilupakan oleh para penjaga Wahyu, Bagaimana menjaga kesetiaan dengan alquran? Menjaga agar setiap huruf, ayat, harakat dan semua hukum tajwid tetap terjaga.
Disinilah kesetian itu diuji. Karena menjaga wahyu bukan hanya sekedar menghafal, tapi jauh dari itu. Mampu dengan setia mengulang hafalan yang ada, Baik dalam keadaan ramai maupun sendiri, di sekolah ataupun dirumah,
Baik ketika dievaluasi maupun diabaikan. Agar hafalan Al-qur’an tetap berada ditempatnya.
Kesetian ini menuntut pengorbanan dan konsistensi, serta membutuhkan keuletan dan ketahanan. Namun tidak banyak yang mampu bertahan dan pada akhirnya hafalan itu perlahan mulai meninggalkan pemilik nya. Pergi ke suatu tempat mengasingkan diri, dan berharap sang penjaga wahyu sadar kemudian kembali mencari dan mengajak pulang hafalan itu kembali ke tempatnya.

